Tuesday, 29 August 2017

Makna kata Tuhan dan Manusia dalam Islam


Hallo gaes, kali ini saya akan berbagi ilmu mengenai makna dasar dan makna relasional dari kata "Tuhan" dan "Manusia". Silakan disimak artikel ini. Semoga bermanfaat....

 A. Makna dasar dan makna relasional dari kata “Tuhan”
Kata Allah adalah fokus tertinggi dalam sistem Al-Quran, baik dari segi nilai penting dan kedudukannya tidak ada yang melebihinya. Nama Allah itu sendiri lazim di kalangan jahiliyah dan Islam. Mengenai makna dasar “Allah” pada masa-masa pra-Islam masing-masing suku biasanya memiliki Tuhan atau dewa lokal yang dikenal dengan nama diri.  Jadi pada awalnya masing-masing suku memiliki makna lokal sendiri ketika mereka menggunakan kata yang maknanya sebanding dengan Tuhan tersebut. Dengan demikian, bahwa kata “Allah” pada zaman Jahiliyah banyak mengandung makna dasar, dan makna yang banyak ini pasti telah dibawa ke dalam sistem Islam ketika Al-Quran mulai menggunakannya sebagai nama Tuhan dalam wahyu Islam.
Secara historis, nama tersebut masuk ke dalam sistem Islam melalui sistem yang lain, yaitu sistem konsep religius  pra-Islam, betapa sederhananya sistem tersebut. Sebelum masuk ke Islam, nama itu sudah lama menjadi bagian dari sistem  pra-Islam yang juga dianggap sangat penting.
Secara semantis, bahwa sebelum makna dasar kata “Tuhan” mendapat tambahan lain dalam sistem besar jahiliah, setelah memperoleh makna relasional khusus. Semua unsur relasional masih ada dalam pemikiran orang-orang Mekkah yang membaca Al-Quran paling tidak pada periode awal karier kenabian Muhammad, karena mereka masih  tetap menyembah berhala dan tetap hidup dalam sistem konsep-konsep tradisional jahiliah. Dengan kata lain, ketika wahyu Islam dimulai, orang-orang Arab di Mekah tidak mungkin memahami kata Allah selain mengaitkannya dengan semua unsur semantik yang ada dalam pemikiran mereka.
Al-Quran mengakui bahwa konsep umum tentang “Allah” yang dimiliki orang-orang Arab pada masa itu secara mengejutkan dekat dengan konsep Islam tentang Tuhan. Al-Quran pun bahkan mempertanyakan dalam sejumlah ayat penting, mengapa orang-orang yang memiliki pemahaman yang begitu tepat tentang Tuhan dapat begitu keras kepala menolak untuk mengakui kebenaran ajaran baru.
Berkaitan dengan masalah perkembangan makna relasional, kata “Allah” di kalangan orang-orang Arab pra-Islam bahwa hakikatnya perlu membedakan antara tiga kasus yang berbeda dan menelaah masalah tersebut dari sudut pandang yang berbeda pula.
1. Pertama adalah konsep pagan tentang Allah,  yaitu orang-orang Arab murni pra-Islam yang berbicara tentang Allah sebagaimana mereka pahami. Ternyata sastra pra-Islam bukanlah satu-satunya sumber informasi mengenai masalah ini, informasi yang sepenuhnya dari tangan pertama bisa diperoleh dari deskripsi situasi aktual yang diberikan Al-Quran.
2. Kita mengamati orang-orang Yahudi dan Kristen zaman pra-Islam yang menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan mereka sendiri. Di sini tentu saja “Allah” berarti Tuhan Injil.
3. Terakhir, kita melihat orang-orang Arab pagan, Arab jahiliah murni non-kristen dan non-yahudi yang mengambil konsep Tuhan Injil “Allah”. Ini terjadi, misalnya ketika seorang penyair Baduy mendapat kesempatan menulis puisi pujian terhadap seorang raja Kristen, pelindungnya, seperti sering ia lakukan pada zaman jahiliah. Dalam kasus semacam itu, dia menggunakan kata “Allah” baik sengaja maupun tidak, dalam pengertian Kristen dan sudut pandang Kristen.
Konsep  Allah tidak hanya ada dalam pandangan religius orang-orang Arab pra-Islam, tetapi lebih dari itu konsep tersebut sudah memiliki struktur  batinnya sendiri yang siap dikembangkan yaitu:
1. Allah dalam konsepsi ini adalah pencipta dunia.
2. Dialah yang menurunkan hujan, atau lebih umum memberi hidup terhadap segala sesuatu yang hidup di bumi.
3. Dialah satu-satunya yang memimpin dengan sangat sungguh-sungguh.
4. Dialah objek dari apa yang bisa saja kita deskripsikan sebagai monoteisme kontemporer yakni ekstensi yang dibuktikan oleh ekspresi yang muncul dalam Al-Quran yang membuat sementara keyakinan mereka murni untuk Dia sendiri
5.  Akhirnya Allah adalah penguasa Ka’bah.
Sebagaimana disebutkan sepintas, konsep Allah yang umum di kalangan orang-orang Arab pra-Islam pada masa sebelum Islam secara umum dekat dengan konsep Islam. Begitu dekatnya, kadang-kadang heran mengapa pemahaman yang benar tentang Tuhan semacam itu pada akhirnya tidak menyebabkan orang-orang kafir itu mengakui kebenaran ajaran baru tersebut. Dalam QS. Al-Ankabut ayat 61 misalnya kita dapatkan:
“Jika kamu tanyakan kepada mereka (yaitu orang-orang Arab pagan) ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?’ Mereka tentu saja akan menjawab, ‘Allah’.”

B. Makna Dasar dan Makna Relasional dari Kata “Manusia”
Dalam makna dasar bahasa Arab, kata Manusia bersepadan dengan kata-kata nas,  basyar, insan, mar’u,  ins dan lain-lain.  Meskipun bersinonim, namun kata-kata tersebut memiliki perbedaan dalam hal makna spesifiknya.Kata nas misalnya lebih merujuk kepada makna manusia sebagai makhluk social, sedangkan kata basyar lebih menunjuk kepada makna manusia sebagai makhluk biologis.
Adapun makna relasionalnya, konsep “manusia” (insan) adalah kutub yang berlawanan dengan Tuhan. Karena di antara semua objek yang diciptakan, manusia merupakan salah satu yang paling penting di dalam Al-Quran sehingga paling tidak menarik perhatian kita dengan jumlah yang sama sebagaimana Tuhan. Manusia, sifatnya, perbuatannya, psikologinya kewajibannya, tujuannya dijadikan pusat perhatian pemikiran Al-Quran sebagaimana persoalan Tuhan itu sendiri. Apa yang difirmankan dan dilakukan Tuhan menjadi persoalan utama, jika tidak secara eksklusif dalam hubungannya dengan persoalan bagaimana manusia bereaksi terhadap firman dan perbuatan Tuhan tersebut. Pemikiran Al-Quran  secara  keseluruhan  berbicara  tentang persoalan  keselamatan  manusia. Jika  bukan  karena  persoalan  ini, maka Al-Quran tidak akan diturunkan, karena  Al-Quran  itu  sendiri secara jelas dan berulang-ulang menekankan hal tersebut. Dalam  pengertian khusus ini, konsep tentang manusia sangat penting pada tingkatan tertentu sehingga membentuk kutub utama yang kedua, yang bertahap dengan kutub terpenting, yakni konsep tentang Allah.   Kemudian Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna dan diperintahkan untuk menjalankan perintah-Nya. Hal ini terkandung dalam QS. Az-Zariyat ayat 56:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan  agar mereka beribadah kepada-Ku”

Sekian, kurang lebihnya saya mohon maaf
Wallahua'lam

Relasi antara Tuhan dan Manusia dalam perspektif Toshihiko Izutsu


Hallo gaes,, kali ini saya akan berbagi ilmu tentang macam-macam relasi antara Tuhan dan Manusia dalam perspektif Toshihiko Izutsu. Semoga dengan adanya artikel ini, kita bisa bertambah ilmu dan bertambah takwa kepada Allah SWT. aamiin.

A. Relasi Ontologis antara Tuhan dan manusia
Relasi ontologis merupakan  relasi antara Tuhan sebagai sumber eksistensi dan manusia sebagai ciptaan-Nya, atau  relasi khaliq-makhluq.  Dengan relasi ini manusia diperkenalkan tentang asal diri, hakikat diri dan pencipta dirinya. Kemakhlukan adalah identitas fundamental. Karena itu manusia harus meletakkan diri sesuai dengan identitas tersebut. Identitas sebagai makhluk adalah kodrat diri sehingga pengakuan atas kodrat itu adalah keharusan. Pengakuan tersebut harus berdasar pada kesadaran tulus yang sejatinya memberikan efek positif riil pada sikap dan perilaku. Sikap yang bisa timbul dari kesadaran yang tulus tentang kemakhlukannya antara lain:
1. Menyadari sebagai milik Tuhan.
2. Tunduk pada kehendak-Nya sesuai dengan tujuan penciptaan.
3. Memahami kesamaan manusia dan jagad raya sebagai makhluk dan memperlakukannya dengan baik.
4. Pembebasan diri dari penuhanan terhadap selain sang Pencipta karena sama-sama makhluk.
Manusia adalah ciptaan Allah SWT yang tertinggi dan sempurna. Hal tersebut sesuao dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Tin ayat 4:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Dalam bahasa yang lebih tegas, pengakuan tentang eksistensi Tuhan yang tunggal (tauhid) dan pencipta segalanya artinya juga pengakuan dan perwujudan kesatuan manusia tanpa pembedaan ras, bangsa, jenis kelamin, warna kulit, dan segala bentuk diskriminasi.

B. Relasi komunikatif antara Tuhan dan manusia
Hubungan komunikatif antara Tuhan dan manusia pada dasarnya bersifat timbal balik: (1) dari Tuhan kepada manusia dan (2) dari manusia kepada Tuhan.  Di dalam relasi komunikatif, ada dua macam, yaitu komunikasi linguistik (verbal) dan komunikasi non-linguistik (non-verbal).
Relasi komunikasi linguistik (verbal) berupa komunikasi dalam bentuk kata-kata. Kata Tuhan berkomunikasi dengan manusia melalui wahyu yang diturunkan kepada orang pilihan yang disebut rasul. Walaupun demikian komunikasi antara Tuhan dan rasul tidak dalam bentuk komunikasi biasa. Sekalipun rasul adalah manusia pilihan Tuhan, ia tetap manusia yang berada di level eksistensi yang berbeda (martabat al-wujud al-mukhtalifah) dengan Tuhan sehingga komunikasinya harus bersifat khusus dan rahasia.
Sebagai bentuk komunikasi linguistik Tuhan kepada manusia, seorang rasul yang menerima wahyu dari Tuhan harus menyampaikannya kepada manusia. Dengan demikian, diharapkan pesan tersebut sampai kepada umat. Seorang rasul merupakan orang yang dipilih untuk mewakili seluruh manusia dalam penerimaan dan penyampaian pesan.
Bentuk relasi komunikasi lainnya adalah komunikasi non-linguistik (non-verbal). Komunikasi ini menggunakan simbol non-linguistik yang berupa ciptaan. Jika dalam komunikasi linguistik menggunakan simbol bahasa yang dibukukan menjadi kitab suci Al-Quran, maka dalam komunikasi non-linguistik, Tuhan menggunakan simbol alam semesta. Dalam bahasa yang lain, Seyyed Hossein Nasr menyebut pesan-pesan komunikasi Tuhan baik dalam bentuk linguistik atau non-linguistik sama-sama Al-Quran, yakni Al-Quran yang dibukukan dan Al-Quran yang diciptakan, karena sama-sama mengandung pesan yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh manusia.

C. Relasi Etik antara Tuhan dan Manusia
Relasi etik merupakan relasi yang paling menonjol dalam pemikiran keagamaan yang berasal dari Yahudi, Kristen atau Islam, dimana konsep tentang Tuhan pada hakikatnya bersifat etik. Tuhan bertindak terhadap manusia dengan cara etik yaitu sebagai Tuhan Keadilan dan Kebaikan, demikian pula manusia diharapkan merasa penting tindakan Ilahi dengan cara yang  etis.
Relasi etik adalah relasi yang melibatkan Tuhan dengan sifat Maha Pengasih-Nya dengan manusia yang harus berterima kasih atas segala kebaikan yang diterima. Segala tindakan Tuhan terhadap manusia merupakan perwujudan rahmat (sifat kasih) dan sifat kebaikan lainnya yang merupakan kelompok sifat fundamental Tuhan. Sifat fundamental adalah sifat esensial yang terdiri kelompok sifat seperti rahman (Maha Pengasih), rahim (Maha Penyayang), wadud (Maha Pencinta), fatah (Maha Pembuka), dan ghofur (Maha Pengampun) sedangkan sifat lainnya yang memperlihatkan karakter keras merupakan sifat yang tergantung respon negatif manusia. Artinya Allah akan selalu baik kepada makhluk-Nya tetapi jika makhluk tidak memberikan respon baik, sangat bisa jadi Allah bertindak tegas dan tampak tidak memperlihatkan sifat kasih sayang-Nya. Padahal semua tindakan Tuhan kepada manusia mengandung kebaikan, karena dalam ayatnya sangat jelas menegaskan bahwa Allah tidak akan zalim kepada hamba-Nya (laisa bi dzallam li al-‘abid),  ditambah dengan penegasan lain bahwa rahmat Allah meliputi segalanya (wa rahmati wasi’at kulla syay’).
Al-Quran sebagai ayat-ayat verbal (wahyu) yang dikomunikasikan Allah kepada umat manusia, menurut Izutsu  memiliki dua aspek yang berbeda, tetapi sama-sama penting yaitu firman (kalam) dan bahasa (lisan) Arab dalam terminologi Sausurian. Kalam merupakan sisi parole sedangkan lisan merupakan sisi langue  atau sarana untuk berkomunikasi. Parole adalah komunikasi linguistik yang terjadi dalam situasi konkret antara dua orang, salah seorang di antaranya memainkan peran aktif sementara yang lainnya memainkan peranan pasif. Sedangkan yang dimaksud langue adalah sistem isyarat verbal  yang telah dikenal dan disepakati sebagai alat komunikasi diantara semua orang yang menjadi anggota masyarakat tertentu. Dalam Al-Quran ada tiga kata yang seringkali digunakan Allah untuk menegaskan bahwa Al-Quran itu adalah parole Tuhan yakni kalam, kalimah, dan qaul.
Sifat hubungan antara manusia dengan Allah SWT bersifat timbal balik yaitu bahwa manusia melakukan hubungan dengan Tuhan dan Tuhan juga melakukan hubungan dengan manusia tujuan hubungan manusia dengan Tuhan adalah dalam rangka pengabdian atau ibadah seperti dalam QS. Al-An’am ayat 15:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku benar-benar takut akan azab hari kiamat jika aku mendurhakai Tuhanku’.”
Secara psikologis, ini merupakan bentuk khusus dari “rasa takut”. Namun menjadi melemah karena dimakan waktu, sehingga makna taqwa mencapai tahap tidak lagi memiliki hubungan nyata dengan citra Hari Pengadilan dan kengeriannya berubah menjadi hampir sama dengan “ketaatan”. Pada tahap ini, taqwa hanya terkait sedikit atau sama sekali tidak ada kaitannya dengan konsep “takut” (khawf).
Dalam literatur non Al Quran pada masa awal Islam oleh ‘Abdah bin Al-Thabib  yang hidup sezaman Nabi, sangat menarik untuk diperhatikan. “Aku perintahkan kepadamu supaya tuqo (taqwa) kepada Tuhan, karena Dia-lah yang memberi kita dan menahan pemberanian-Nya, kepada siapa saja yang Dia sukai, semua benda yang bernilai dan diingini”.
Taqwa sama sekali tidak ada hubungannya dengan akhirat dan takut terhadap siksaan. Hal ini jelas berdasarkan fakta bahwa kebaikan dan karunia Allah disebutkan sebagai alasan mengapa manusia harus taqwa kepada Tuhan.

Wallahua'lam

Monday, 28 August 2017

Nasionalisme: pengertian, prinsip-prinsipnya, ciri-ciri, tujuan, unsur-unsurnya, bentuk dan arti pentingnya serta contohnya TERLENGKAP

Halo gaes, kali ini saya akan berbagi ilmu mengenai nasionalisme dan seluk-beluk yang ada didalamnya. Untuk lebih jelasnya, silakan simak artikel di bawah ini. Semoga bermanfaat.

NASIONALISME

1. Pengertian Nasionalisme
Kata “nasionalisme” secara etimologis berasal dari kata “nasional” dan “isme” ,yaitu paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air, memiliki rasa kebanggaan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan bangsa.  Menurut Ensiklopedia Indonesia, nasionalisme diartikan sebagai sikap politik dan sosial dari kelompok-kelompok suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, bahasa, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan.

2. Paham Nasionalisme
Sekelompok besar manusia mendiami puluhan ribu kepulauan di nusantara dari sabang sampai merauke, yang terdiri atas bermacam-macam suku bangsa, menganut berbeda-beda agama, berpaham politik aneka aliran, namun karena mempunyai persamaan asal-usul leluhur, persamaan  nasib jaya dan derita di masa lampau, persamaan perjuangan dalam membebaskan diri dari penjajahan, dan mempunyai hasrat cita-cita yang kuat untuk hidup bersama dalam satu negara.  Semua itu tercermin dalam sesanti “Bhinneka Tunggal Ika” berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Nasionalisme Indonesia adalah jelas dan tegas yang disebut nasionalisme pancasila. Dengan ciri khusus demikian itu, maka nasionalisme Indonesia merupakan nasionalisme yang menerima bangsa lain menjadi rakyat Indonesia sebagai kesatuan dan menghargai bangsa lain sebagai sesama makhluk Tuhan serta menghargai karya bangsa lain. Jadi nation atau bangsa Indonesia adalah sekelompok besar masyarakat Indonesia baik asli atau keturunan asing, yang berbeda-beda dalam suku bangsa, berbagai agama dan aliran politik yang bersatu untuk hidup bersama sebagai satu kesatuan bangsa besar yaitu bangsa Indonesia.
Paham kebangsaan dalam nasionalisme Indonesia merupakan paham kebangsaan dengan semangat patriotisme yang memerlukan tokoh-tokoh pembinaannya. Dalam melangsungkan nasionalisme pancasila perlu juga adanya suatu doktrin nasional untuk membina ketahanan nasional dalam rangka mengatasi segala ancaman, tantangan,hambatan, dan gangguan yang membahayakan identitas dan integritas serta kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
Pemahaman tentang nasionalisme dapat dibedakan kedalam arti sempit dan kedalam arti luas sebagai berikut :
a. Nasionalisme dalam arti sempit
Nasionalisme berarti perasaan kebangsaan atau cinta terhadap bangsanya yang tinggi bahkan hingga berlebihan, sehingga memandang bangsa lain lebih rendah dari bangsanya (Chauvinisme).  Paham ini pernah dianut oleh beberapa negara di dunia seperti Italia, Jepang, dan Jerman. Sebagai warga negara indonesia dan sebagai warga masyarakat dunia, kita tidak boleh menganut paham nasionalis dalam arti sempit Chauvinisme, karena akan berdampak buruk pada tatanan pergaulan internasional, sedangkan secara pribadi bnagsa indonesia tidak menganut paham ini, bahkan menentangnya. Hal ini terlihat jelas dalam asas hubungan luar negeri yang dianut oleh negara indonesia yaitu bebas dan aktif.
b. Nasionalisme dalam arti luas
Nasionalisme dalam lingkup ini diartikan sebagai perasaan cinta atau bangga terhadap tanah air dan bangsanya dengan tetap menghormati bangsa lain karena merasa sebagai bagian dari bangsa lain di dunia.  Suatu bangsa yang menganut pengertian ini mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan dan keselamatan bangsanya, serta tetap mengohormati bangsa lain seperti menghormati bangsanya sendiri
Nasionalisme atau rasa cinta dan bangga kepada bangsa dan negara sangat penting dimiliki oleh rakyat suatu negara, karena nasionalisme membentuk suatu kesadaran para pemeluknya untuk memberikan loyalitasnya kepada negara, bukan lagi kepada golongan, kelompok, suku, ras, agama, maupun budaya masing-masing. Indonesia sebagai negara yang memiliki tingkat kemajemukan sangat tinggi membutuhkan kesadaran seluruh rakyatnya untuk memiliki rasa nasionalisme, sehingga tujuan negara yang ingin dicapai dapat terwujud, yaitu melalui usaha pembangunan yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh rakyat dan elemen negara. Di Indonesia, nasionalisme atau semangat kebangsaan dirangkum dalam sila ketiga pancasila yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a. Memiliki rasa cinta tanah air dan bangsa
b. Menempatkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan
c. Bangga menjadi bagian dari bangsa indonesia
d. Mengakui dan menghargai kemajemukan yang ada di Indonesia
e. Memupuk dan menjaga semangat persatuan dan kesatuan dunia
f. Turut serta dalam usaha menciptakan perdamaian dunia
g. Turut serta dalam mempertahankan dan memajukan negara
h. Menjaga nama baik bangsa

3. Prinsip – Prinsip Nasionalisme
a. Prinsip kebersamaan
Penerapan prinsip kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari menuntut setiap warga negara agar memiliki sikap “pengadilan diri” untuk mengarahkan aktivitasnya menuju kehidupan yang selaras,serasi, dan seimbang. Nilai kebersamaan menuntut setiap warga negara untuk menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
b. Prinsip persatuan dan kesatuan
Prinsip persatuan dan kesatuan terwujudkan dalam bentuk kesetiaan atau loyalitas yang tinggi hanya untuk kepentingan negara. Ini berarti setiap warga negara harus mampu mengesampingkan kepentingan pribadi atau golongan yang dapat menimbulkan perpecahan dan anarkis (merusak). Untuk tetap tegaknya prinsip persatuan dan kesatuan, setiap warga negara harus mampu mengedepankan sikap kesetiakawanan sosial, peduli terhadap sesama, solidaritas dan berkeadilan sosial.
c.   Prinsip demokrasi/demokratis
Prinsip demokrasi/demokratis memandang bahwa setiap warga negara mempunyai kedudukan, hak , dan kewajiban yang sama. Karena hakikat semangat kebangsaan adalah adanya tekad untuk hidup bersama yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara yang tumbuh dan berkembang dari bawah untuk bersedia hidup sebagai bangsa yang bebas, merdeka, bersatu,  berkedaulatan, adil dan mamkmur.

4. Ciri-ciri Nasionalisme
Adapun semangat kebangsaan pada bangsa indonesia diakomodasi dalam pancasila sila ke-3 yakni “Persatuan Indonesia” dan ditandai dengan ciri-ciri berikut ini :
a. Mencintai bangsa dan tanah air Indonesia
b. Rela berkorban demi bangsa dan negara
c. Bangga berbangsa dan bertanah air Indonesia
d. Menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.

5. Tujuan Nasionalisme
a. Menjamin kemauan dan kekuatan mempertahankan masyarakat internasional
melawan musuh dari luar negara sehingga melahirkan semangat rela berkorban.
b. Menghilangkan ekstrimisme dari warga negara.
c. Menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air.
d. Menciptakan hubungan yang rukun dan harmonis, dan mempererat tali persaudaraan yang utuh.

6. Unsur-unsur Nasionalisme
Unsur-unsur nasionalisme antara lain : perasaan nasional, watak nasional, batas nasional, bahasa nasional, agama, dan peralatan nasional.
Untuk menumbuhkan semangat nasionalisme ita harus menghindari hal-hal sebagai berikut:
a. Sukuisme yaitu sikap yang menganggap suku bangsanya sendiri yang paling baik dan merendahkan suku bangsa lain.
b. Propinsialisme yaitu sikap yang lebih mengutamakan kepentingan provinsinya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan bangsa yang lebih besar.
c. Chauvinisme yaitu sikap yang mengagung agungkan bangsa sendiri dan merendahkan bangsa lain.
d. Ekstrimisme yaitu sikap keras mempertahankan pendirian dengan berbagai cara, walaupun melanggar ketentuan-ketentuan hukum negara.

7. Bentuk-Bentuk Nasionalisme
a. Nasionalisme kewarganegaraan yaitu nasionalisme yang terbentuk karena negara memperoleh kebenaran politik dari partisipasi aktif warga negaranya.
b. Nasionalisme Etnis yaitu nasionalisme yang terbentuk karena negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat.
c. Nasionalisme Budaya yaitu nasionalisme yang terbentuk karena negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama anggota masyarakat.
d. Nasionalisme Romantik atau Identitas yaitu nasionalisme etnis yang terbentuk karena negara memperoleh kebenaran politik sebagai sesuatu yang alamiah dan merupakan ekspresi suatu bangsa atau ras.
e. Nasionalisme Agama yaitu nasionalisme yang terbentuk karena negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama yang dipeluk oleh anggota masyarakat.
f. Nasionalisme Kenegaraan yaitu nasionalisme yang merupakan kombinasi antara nasionalisme kewarganegaraan dan nasionalisme etnis. Dalam konsep nasionalisme kenegaraan, bangsa menjadi komunitas yang memberikan konstribusi terhadap pemeliharaan dan kekuatan negara.

8. Pentingnya Nasionalisme
Nasionalisme menjadi dasar pembentukan negara kebangsaan. Hubungan nasionalisme dan kebangsaan memiliki kaitan yang erat. Negara kebangsaan adalah negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan atau nasionalisme. Artinya, adanya tekad masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat tersebut berbeda-beda agama, ras, etnik, atau golongannya. Rasa Nasionalisme sudah dianggap telah muncul manakala suatu bangsa memiliki cita-cita yang sama untuk mendirikan suatu negara kebangsaan. Nasionalisme merupakan paham kebangsaan, semangat kebangsaan, dan kesadaran kebangsaan. Paham nasionalisme akan menjadikan kita memiliki kesadaran akan adanya bangsa dan negara.
Nasionalisme menjadi persyaratan mutlak bagi hidupnya sebuah bangsa. Ideologi nasionalisme membentuk kesadaran para pengikutnya bahwa loyalitas tidak lagi diberikan  keyakpada golongan atau kelompok kecil, seperti agama, ras, suku, dan budaya (primordial), namun ditunjukan kepada komunitas yang dianggap lebih tinggi yaitu bangsa dan negara. Sebagai kesimpulannya, nasionalisme sebagai ide (ideologi) menjadi keadaan yang harus ada bagi keberadaan agama.

9. Contoh-contoh Nasionalisme
a. Menjaga ketertiban masyarakat dengan mematuhi aturan yang berlaku.
b. Mematuhi dan mentaati hukum negara.
c. Bersedia mempertahankan dan memajukan negara.
d. Melestarikan budaya indonesia.
e. Menggunakan produk dalam negeri
f. Menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa
g. Ikut serta dalam upaya pembelaan negara

Akord dan lirik lagu Armada - Penantian

Hallo sob, kali ini saya akan berbagi akord dan lirik lagu Armada yang judulnya Penantian. Langsung saja, silakan disimak dan dipraktikkan. Semoga bermanfaat. Aamiin


Armada - Penantian

Intro : Am  G  C
        Dm  E  Am 
  Am         G     C
temukan dia untukku
   Am          G    C
pulangkan dia padaku
    Dm          C     G
tunjukkan jalan padanya
   Dm          C    G
bahwa ku tetap disini
  Am         G     C
temukan dia untukku
 Am            G    C
pulangkan dia padaku
   Dm           C    G
tunjukkan jalan padanya
   Dm          C    G
bahwa ku tetap disini
      F   Em       Dm
untuknya..  berharap dia
     E               Am   A
kembali pulang untukku
Reff:
         Dm
  penantian
         G            C
  ini teramatlah panjang
           F          Dm
  coba kau rasakan sayang
          E            Am   A
  letihku di ujung jalan
             Dm
  dia menghilang
          G           C
  membawa semua kenangan
            F          Dm
  terindah yang kurasakan
           E          Am
  saat bersamanya sayang
Musik : F  Em  Dm  Dm  E
        F  Em  Dm  Dm  E  Am
        F  Em  Dm  Dm  E
Reff:
         Dm
  penantian
         G            C
  ini teramatlah panjang
           F          Dm
  coba kau rasakan sayang
          E             Am   A
  letihku di ujung jalan
             Dm
  dia menghilang
          G           C
  membawa semua kenangan
            F          Dm
  terindah yang kurasakan
         E             Am
  saat bersamanya sayang..
Musik : Am  E/G#  G  D/F# Dm  E
           woo ooo ooo…
        Am  E/G#  G  D/F#
    Dm        E          Am
hatiku pilu sepilu-pilu nya..
Catatan:
Chord diatas di superdasarkan

Di bawah ini, original chordnya
Intro : Em  D/F#  G
        Am  B  Em 
  Em         D/F#  G
temukan dia untuk ku
  Em           D/F#  G
pulangkan dia pada ku
   Am            G    D/F#
tunjukkan jalan padanya
   Am           G    D/F#
bahwa ku tetap disini
  Em         D/F#   G
temukan dia untuk ku
  Em           D/F#  G
pulangkan dia pada ku
   Am            G    D/F#
tunjukkan jalan padanya
   Am           G    D/F#
bahwa ku tetap disini
      C   G/B     Am
untuknya...  berharap dia
     B               Em    E
kembali pulang untukku
Reff:
         Am
  penantian
         D            G
  ini teramatlah panjang
           C          Am
  coba kau rasakan sayang
          B           Em   E
  letihku di ujung jalan
            Am
  dia menghilang
          D           G
  membawa semua kenangan
           C           Am
  terindah yang kurasakan
          B          Em
  saat bersamanya sayang
Musik : C  G/B  Am  Am  B
        C   G/B  Am  Am  B  Em
        C   G/B  Am  Am  B
Reff:
         Am
  penantian
         D            G
  ini teramatlah panjang
           C          Am
  coba kau rasakan sayang
          B           Em   E
  letihku di ujung jalan
            Am
  dia menghilang
          D           G
  membawa semua kenangan
           C           Am
  terindah yang kurasakan
          B            Em
  saat bersamanya sayang
Musik : Em  B/D# D A/C#  Am  B
           woo ooo ooo
        Em  B/D# D A/C#
    Am         B          Em
hatiku pilu sepilu-pilu nya

Akord dan lirik Mars Muhammadiyah - Sang Surya

Hallo sob, ini nih gue kasih akord dan lirik Mars Muhammdiyah yang judulnya Sang Surya. Semoga bisa bermanfaat dan membantu kalian yang sedang mencari dan menghafalkan lagu Sang Surya tersebut. Silakan disimak


Intro :  Am     F   Dm    E   (1 x)

Am
Sang surya tetap bersinar
F                         Dm       
Syahadat dua melingkar
   F                         Am
Warna yang hijau berseri
    E                  Am
Membuatku rela hati

Am
Ya Allah Tuhan Rabbiku
F                          Dm
Muhammad junjunganku
    F                      Am
Al Islam agamaku
     E                 Am
Muhammadiyah gerakanku

C                                    Am
Di timur fajar cerah gemerlapan
Am
Mengusir kabut hitam
          G                        E
Menggugah kaum muslimin
        E                     Am
Tinggalkan peraduan

       C                       Am
Lihatlah matahari telah tinggi
Am
Di ufuk timur sana
G                  F
Seruan Illahi Rabbi
     E                Am
Sami'na Wa Atho'na

Am
Ya Allah Tuhan Rabbiku
F                         Dm
Muhammad junjunganku
      F                Am
Al Islam agamaku
E                      Am
Muhammadiyah gerakanku


Intro : Am   F   Dm    E   (2x)